Sabtu, 11 Maret 2017

BAKSOS FORMALIS

Alhamdulillah, Kembali Berkhidmat BAKSOS FORMALIS Masjid At Taubah. Sabtu, 11 Maret 2017

Jazaakumullah khair buat Sahabat-Sahabat FORMALIS untuk semua apresiasinya dalam kegiatan ini. Setiap kerja dan lelah akan selalu tercatat rapih pada catatan amal kita, semoga segala khidmat ini menuai berkah dalam ridho-Nya. Aamiin

Div. SosKom Formalis
Bekerjasama dengan Majlis Jam'iyyat At Thullabiyah Lipia

Sabtu, 04 Maret 2017

Peran Mahasiswa Bukan Sekedar Dikampus

Ahad 5 Maret 2016, telah berlangsung shalat subuh berjamaah dan dilanjutkan dengan silaturahim ke tokoh-tokoh masyarakat di Masjid At-taubah komplek polri Ragunan pasar minggu,  yang diadakan oleh divisi Soskom FORMALIS, bekerja sama dengan Majelis Jam'iyyat At Thullabiyah Lipia,  Jakarta Selatan, dalam rangka mempererat tali silaturrahim. 
"Mari Belajar bermasyarakat karena mahasiswa tidak selama nya di kampus." Divisi Soskom Formalis.  

Kita semua percaya. Ada semangat yang tak pernah hilang dari dalam diri seorang pemuda. Dan dari sinilah kita semua berusaha untuk mulai menyebarkannya. 
Saling menghormati dan saling menghargai setiap perbedaan. Menjadikan kita satu tak terpisahkan. Mewujudkan wadah yang santun, damai dan indah dilihat jiwa. Terus Menginspirasi, saling menghargai dan saling menghormati. (Div.Soskom/FL)

MERAH TAK SELALU DARAH

         Ada sisi menarik mengapa lautan itu dinamakan Laut Merah (Bahr Al Ahmar). Banyak cerita di masa lampau yang mengaitkan kondisi Laut Merah dengan warnanya.
Ada yang menyebutkan, lautan itu berwarna merah karena banyak darah dari binatang-binatang yang mati dan membusuk.
          Namun,  ada pula yang menyebutkan bahwa lautan itu berwarna merah karena ada sebuah batu di dasar laut yang mengeluarkan cahaya berwarna kemerahan.
Pada abad ke-20, orang Eropa menyebut daerah tersebut dengan Teluk Arab. Sedangkan Herodotus dan Ptolemeus menyebutnya sebagai Arabicus Sinus. Air Laut Merah sendiri sebenarnya tidak beda dengan air laut yang lain.
       Penjelasan-penjelasan ilmiah menyebutkan bahwa warna merah di permukaan muncul akibat Trichodesmium Erythraeum yang berkembang.  Ada juga yang menjelaskan bahwa namanya berasal dari gunung kaya mineral di sekitarnya yang berwarna merah.
Bahkan,  ada yang mengaitkan penamaan merah itu dengan peristiwa yang terjadi di Sungai Nil.                  Ketika Fir'aun mengklaim dirinya sebagai tuhan dan kaumnya menyembah berhala-berhala, termasuk Sungai Nil dan katak (kodok) yang dikeramatkan,  Allaah lalu menghukum mereka atas kesesatan yang dilakukan.
        Menurut para penafsir Perjanjian Lama,  yang dimaksud dengan 'Darah' adalah perubahan Sungai Nil menjadi merah.  Hal ini dijelaskan sebagai suatu perumpamaan bagi berubahnya Sungai Nil menjadi merah kental. Menurut sebuah penafsiran,  yang mengakitbatkan warna merah adalah sejenis bakteri.
           Sungai Nil adalah sumber kehidupan utama bagi bangsa Mesir. Kerusakan apapun yang terjadi pada sumber ini dapat berarti kematian bagi seluruh Mesir.
Jika bakteri telah menutupi seluruh permukaan seluruh Sungai Nil sampai mengubahnya berwarna merah,  maka setiap mahkluk hidup yang menggunakan air tersebut akan terinfeksi oleh bakteri ini.
     Penjelasan terbaru tentang penyebab merahnya warna air telah menunjuk Protozoa,  Zooplanktom,  ganggang (Fitoplankton), air asin atau tawar,  dan Dinoflagelatta sebagai kemungkinan penyebab perubahan warna air.
Semua jenis ini,  baik tumbuhan, jamur,  maupun Protozoa,  mengisap oksigen dari dalam air dan menghasilkan racun yang berbahaya, baik bagi ikan maupun katak.
          Di masa Fir'aun,  rangkaian bencana seperti ini tampaknya terjadi. Menurut skenario ini,  ketika sungai Nil tercemar, ikan-ikan pun mati dan bangsa Mesir kehilangan salah satu sumber nutrisinya yang sangat penting.
     Sungai Nil dan tanah yang berdekatan dengannya membusuk dan airnya berbahaya untuk diminum atau digunakan untuk mandi. Terlebih lagi, punahnya spesies katak menyebabkan berbagai jenis serangga berkembang biak secara besar-besaran.
        Laut Merah muncul karena pemisahan Jazirah Arab dari benua Afrika yang dimulai sekitar 30 juta tahun yang lalu dan masih berlanjut hingga saat ini.
Kota-kota yang terdapat di pesisir Laut Merah antara lain Jeddah, Sharm El Sheikh,  Pelabuhan Sudan, dan Eilat.
         Adapun negara-negara yang berbatasan dengan Laut Merah adalah Mesir, Israel, dan Yordania di sebelah utara. Sudan dan Mesir di pesisir barat; Arab Saudi dan Yaman di pesisir timur; Somalia,  Djibouti, dan Eritrea di pesisir selatan.
*Dirangkum dari berbagai sumber





=========


Find us: 

Fp : FP Formalis Lipia 
Twitter : @formalislipia 
Instagram : @formalis_lipia 
Blog : formalislipia.blogspot.com

Jumat, 03 Maret 2017

Jangan pernah menyerah !



                Apa yang akan kita lakukan jika kita di suruh mengangkat batu semampu kita ? mungkin di antara kita ada yang cukup mengambil batu yang ringan karena merasa kuatnya hanya segitu , atau mungkin ada yang mengambil beberapa batu yang agak berat karena merasa kuatnya juga segitu .. adakah yang mengambil batu yang berat meskipun sebelumnya gak yakin kuat tapi akhirnya dicoba ternyata dia kuat meskipun sangat terasa beratnya ..
Itulah contoh sikap optimis ,ya … setiap muslim khususnya aktifis dakwah dan tholibul ilmi harus memiliki sifat ini . Pantang  mengibarkan bendera putih tanda menyerah dalam setiap aklifitas dan mengejar cita –cita , tidak takut gagal , berusaha menjadi yang terbaik selalu berprinsip “ hal ini sulit tapi mungkin bukan mungkin tapi sulit “.
tengoklah  Thomas Alfa Edison yang melakukan eksperimen listrik sebanyak 10.000 kali dan semuanya gagal , namun tetap di lanjutkan sampai berhasil dengan pekikannya “ saya pasti berhasil karena sudah kehabisan percobaan yang gagal “
Islam pun mencatatkan pioner-pionernya dalam mengguncang dunia, sebut saja sang pembebas andalus thariq bin ziyad, dalam kondisi serumit telur diujung tanduk mampu mengubah telur itu menjadi  bom semangat yang meledak. Dan coba kita lihat kondisi syaikh Abdullah bin baaz, seolah siang adalah malam, tapi ia bisa melihat apa yang tidak dilihat orang yang melihat. Dan masih banyak lagi daftar-daftar pioner islam ang mampu  mengubah kemustahilan menjadi keniscayaan,, dan kitalah selanjutnya......!!!!
Ikhwany ..Agama kita terus memotivasi kita untuk selalu optimis dan tidak pesimis. So jadikan kekurangan sebagai motivasi dalam meledakkan potensi fitrah kita semenjak kita lahir.
Wala tahinu wa la tahzanuu wa antm al a,launa in kuntum mu,minin
Optimis adalah pilar utama kesuksesan sedangkan kegagalan itu milik orang yang berfikir negative , bertindak pasif , mengalah pada keadaan , gamang melangkah , gampang menyerah  dan suka mencari cari  alasan . pertanyaanya bagaimana kita selalu menumbuhkan ruh optimisme dalam diri kita ? Sholihin Abu Izzuddin dalam bukunya “ Zero to hero “ dan  “  The way to win  “ berbagi tips pada kita .
1.            Sabar  dan  tabahlah , sabar dan tabah bila di jalani akan mengubah musibah menjadi karunia , tantangan menjadi peluang , keterbatasan menjadi  anugerah .. maka bersabarlah bila mukafa,a terlambat kan kalau di rapel menjadi banyak jumlahnya soalnya di tabungkan ama muhasib !!!!

2.            Jangan pernah kehilangan momentum  alias gunakan waktu sebaik mungkin“ karena momentum tidak akan pernah terulang kedua kalinya “ hasan Al Bashri mengingatkan waktu hanya ada tiga  waktu kemarin yang sudah bukan milik kita lagi , esok hari yang belum tentu kita punyai . dan sekarang yang ada di tangan kita
Teruslah belajar saat kita masi muda , banyak kesempatan ,  masi di Ma,had belum disibukkan oleh urusan keluarga , ummat , mumpung kita masi di Jakarta di mana kesempatan terbentang luas di depan kita

3     Bercita – cita dan bermimpilah

                Ada  filosify  mengatakan bermimpilah sebelum bermimpi itu dilarang , orang yang gagal merencanakan alias tidak bercita – cita adalah orang yang merencanakan kegagalan . memiliki cita –cita berarti memiliki tujuan hidup yang jelas . memiliki kejelasan tujuan adalah separuh kesuksesan . adapun separuhnya adalah bagaimana kita menempuhnya
       Imam Asyyahid  berujar “ Impian hari ini kenyataan di hari esok . dan kenyataan hari ini adalah buah dari impian kita kemarin .” maka bermimpilah untuk menjadi Awail jangan pernah berprinsip “ al muhim Najih “ ,bermimpilah untuk meraih gelar doctor , menjadi milyader dermawan , bahkan menjadi presiden sekalipun …

          Demikianlah ikhwany semuanya pribadi muslim yang visioner memiliki optimisme yang besar dari optimism besar itulah orang akan berfikir besar untuk melakukan kerja- kerja besar karena itu jangan pernah berhenti untuk meraih prestasi hidup yang luar biasa
      “ raih kesuksesan dengan menggunakan semua otak , baik otak sendiri maupun ,meminjam otak orang lain (BS Wibowo )  akhirnya  dari Bulukumba ana berdoa untuk antm semua.
عش كريما أو مت شهيدا

                                                                     Oleh : M. Abror Bahari , Lc ( Alumni LIPIA , FORMALIS  ) 

MENUNGGUMU MENEPATI JANJI (WAKTU)


      Adalah  Menteri disalah satu departemen beberapa bulan yang laludengan menahan malu menerima kritik dari seorang tamunya -menteri Jepang- ketika telat menghadiri pertemuan yang telah disepakati. Alasan Menteri telat tersebut karena kemacetan lalu-lintas…”apa perlu bantuan pemerintah Jepang membenahi jalanan di Indonesia?” seru menteri dari Jepang diplomatis.(detik.com)

Menelisik perihal menepati janji atau menepati waktu sebenarnya adalah kebiasaan terpuji dan budaya bangsa yang berperadaban tinggi, juga adalah ikon pribadinya para Rasul Allah dan orang shaleh.

Dalam al-Quran (Maryam 41 dan 54) Allah memuji dan menggelari nabi Ibrahim dan Ismail masing-masing  sebagai  صادق الوعد (sang penepat janji). Demikian pula Nabi Musa alaihissalam yang telah menepati janjinya terhadap mertua beliau nabi Syuaib, untuk bekerja selama delapan tahun bahkan lebih, nabi Yusuf alaihissalam menepati janjinya mengurus kekayaan berupa pangan negara hingga selamat dari bahaya musim paceklik berkepanjangan. Nabi  kita Nabi Muhammad salallahu alaihiwasallam digelari al-amin karena mulianya menepati janji dalam memikul amanah.

Bila dicermati keberhasilan seseorang dalam menepati janji, terletak pada penghargaan orang tersebut terhadap waktu. Semakin akurat pemanfaatan waktu seseorang maka akan semakin barhasil orang tersebut menepati janji dari waktu yang dia tentukan.

      Dibalik  jubah orang-orang sukses selalu terselip kedisiplinan mereka dalam mengatur waktu. Syauqi seorang penyair mesir berkata:

إن الحياة دقائق وثوانى
hidup itu adalah detakan menit dan detik”.

Nah berati tubuh kita ini bagaikan materi yang terdiri dari sejumlah hari pekan dan bulan, yang akan terlepas pergi perlahansetiap berlalunya hari-hari itu…ketika tiba di titik ending, tidak ada yang tersisa kecuali hanyalah kematian….

Hari ini bilamana kita membuat janji pada jam sekian..terkadang ada pertanyaan apakah kita memakai jamnya Inggris atau memakai jamnya orang timur? (baca: orang kita)…??

Ironis memang padahal Islam ini mengajari kita untuk selalu menepati waktu… janganlah berbuka puasa kecuali kalau sudah masuk waktu…rangkaian sholat fardu dan solat sunnah juga diikat dengan waktu, sampai tak ada ritual ibadah pun kecuali dilaksanakan tepat pada waktu.

… إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا } [النساء:103]
“Sesungguhnya Sholat itu ditentukan waktunya bagi orang-orang mukmin”

          Selayang kalau kita amati kebiasaan mengingkari janji ternyata adalah penyakitnya para musuh Allah, di saf depannya  ada firaun laknatullah saking seringnya mengingkari janji hingga muncul istilah “tobatnya firaun” sehari bertobat sehari kemudian bermaksiat dan seterusnya. kemudian mengikuti dibelakangnya para pecandu dosa termasuk bangsa Israel hari ini yang manusia sedunia mengakui bahwa mereka amat ingkar akan janji-janji mereka.

Pertanyaannya di barisan saf manakah kita berada? Karena memenuhi janji tidaklah semudah kita mengucapkannya!

      Saking  mulianya perilaku menepati janji, Allah ta’ala mensifati satu diantara Sifat-sifat-Nya Yang Maha Sempurna adalah Maha Menepati Janji firman-Nya:

رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ (آل عمران:9) 

“Wahai Rabb kami sesungguhnya Engkaulah yang mengumpulkan manusia di hari –kiamat- yang tidak diragukan lagi (terjadi), sesungguhnya Allah Tidak (perna) Mengingkari Janji”.Waalahuta’ala a’lamu.

                                                                                                                            (Abu Sumayyah Lauma)

RACUN PERSAUDARAAN



Bak bom di sore hari, waktu yang biasanya di isi dengan keceriaan anak-anak bersorak sorai bermain, tiba-tiba dikagetkan oleh seorang pria perawakan tinggi besar, kulit sawo matang dengan garangnya mencak-mencak di depan seorang ibu yang telah berumur paruh baya. Tak berselang waktu lama kemudian, pria kekar itu mengarahkan telunjuknya ke arah orang-orang yang ada di sekitarnya dengan wajah yang menunjukkan kemarahan, sembari mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak nyaman di hati siapa pun yang ada saat itu, “ Bang ... (sensor) lusemua” ucapnya.  Usut punya usut, peristiwa sore itu tersulut akibat gossip yang tersebar. Merasa dirimya terdzolimi dengan pemberitaan miring tentang keluarganya, ia pun mencari biang keladinya.

Tak dapat disangkal, ghibah adalah bumbu yang paling laris di hampir setiap majelis. Ust. Das’ad, Seorang penceramah kondang asal Sidrap, mengumpamakan gibah ini dengan toge, jenis sayuran yang hampir ada di setiap makanan, bentuknya pun mirip dengan gibah, “bengkok, tidak ada yang lurus” katanya. Toge (baca: gibah) mudah didapatkan di mejelis ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, ranjang pasutri, pelajar umum, pelajar ilmu syar’i, hingga di mejelis anak-anak yang gigi susunya belum terganti.

Abu Hurairah Radhiallahu anhu berkata, bahwasannya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “  Tahukah kalian apa ghibah itu?” mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan perkara tentang saudaramu yang tidak disukainya.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana bila yang aku sebutkan benar-benar ada pada dirinya?” Beliau menjawab, “ Jika yang kau katakan benar ada pada dirinya, berarti engkau telah menggibahnya. Jika yang kau katakan tidak ada padanya, engkau telah berdusta tentangnya.” HR. Muslim

Sulit memang, karena telah terbiasa, membicarakan tentang ayat-ayat Allah, hadits-hadits yang mulia, sirah para anbiya dan Shalihin dan hal-hal yang bermanfaat lainnya, terasa kalah nikmatnya dari menyebutkan kejelekan dan kekurangan orang lain. Hati yang lalai akan sangat mudah diperdaya syetan. Meskipun, awalnya membahas pelajaran yang baru saja dikupas di dalam kelas, tanpa terasa alur pembicaraan mengarah pada kekurangan ustadz dalam menjelaskan, atau kesalahan teman dalam memahami pelajaran hingga menimbulkan kelucuan atau kekurangan lain. Memulai dengan pembicaraan akhlaqul karimah, berujung pembahasan kejelekan tetangga, kerabat dsb.

Gibah adalah penyakit komplikasi yang tergabung padanya dengki, hasad, kecemburuan, dusta, ghuluw , nifaq, egoisme dan lainnya. Sehingga, mampu membangun sebuah kekuatan, menjadi racun ganas atau ‘bom’ dahsyat yang mampu meluluh lantakan bangunan persaudaraan dan persatuan. Sangat potensial menyulut kemarahan, kebencian, pertikaian, pemutusan silaturrahim, pembunuhan dan perpecahan.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling membenci,  saling dengki, saling mendzolimi, saling memutuskan silaturrahim. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidaklah halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari 3 hari.”Muttafaqun Alaihi

Betapa berhasilnya setan memperdaya manusia. Simaklah khabar dari Rasulullah, ketika beliau bersabda, “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di jazirah Arab. Akan tetapi, ia menyebarkan hasutan di antara mereka.” HR muslim


Tidak ada aib bila kita membiasakan hal-hal yang baik untuk lidah kita. Tidak sulit membangun komitmen untuk menjauhi majelis toge (baca: gibah), atau membuat kesepakatan saat berkumpul untuk tidak memulai adat buruk itu. Karena kita semua ingin selamat dari fitnah dunia dan akhirat. Wallahu a’lam

MENCARI MUTIARA DI KAMPUS LIPIA



            Di sini kita tidak sedang membeli sayur-mayur di Pasar Minggu, di sini kita tidak sedang menawar handphone di Roxy, dan di sini kita tidak sedang memesan barang Grosiran di Pasar Tanah Abang, tetapi di sini kita sedang membeli, menawar, dan memesan sang mutiara sebagai partner tuk berjuang di dunia dan mengharap pertemuan abadi di Syurga, atau kata kang Abik: “ Cinta berbuah Syurga “…Amin…

            Mutiara itu tidak pernah hilang dan tidak pernah habis. Mutiara itu akan selalu ada, dulu dan sekarang, dan akan senantiasa hadir, untukmu dan untuk kita semua, atau barang kali mutiara itu telah ada di sekitar kita, so bersiaplah menyambutnya!!!

Mutiara yang diKASIHI adalah perempuan pecinta tuhannya yang
Mengalir cinta, takut dan menguasai
Perjalanan hidupnya setiap masa
Sehingga dia memanggilnya ...

            Mutiara yang diRINDUI adalah
            perempuan yang di wajahnya
            terpancar sinar nur ilahi
            lidahnya basah dengan zikrullah
            dan di sudut hatinya senantiasa
 membesarkan Allah ...

Mutiara yang diCINTAI adalah
 perempuan yang menutup Auratnya
dari pandangan mata Ajnabi
kehormatan dirinya menjadi mahal nilainya
biarpun namanya tidak di kenal di bumi
tetapi di langit dia di sanjung tinggi

            Mutiara yang diSAYANGI adalah
            perempuan yang bersyukur dengan apa yang ada
yang bersabar dengan apa yang tiada

            Mutiara yang diSUKAI adalah
            perempuan yang sejuk mata memandangnya
yang terlihat keluhuran akhlakya
menjadi sumber ketenangan jiwa
bila hati bergelora.

            Mutiara yang diIDAMI adalah
perempuan yang mengingatkan hati
kepada Ar Rahman, Ar Rahim
bila ruh terlupa padanya.

            mutiara yang diSANJUNG adalah 
perempuan yang menjadi pelita kepada
bakal putera-putrinya unutk meneruskan
perjuangan di kemudian hari..
 Semoga .........
           
            Dan saya yakin kita semua pasti sepakat bahwa mutiara-mutiara itu sudah ada disini. Mereka lahir dan besar di kampus ini. Mereka adalah Aku, Kamu, dan kita semua. Mereka bukan orang lain, mutiara itu ada di kampus LIPIA .... Insya Allah..


                                                                                          Oleh : Rayhana Ahmad. TAK II